Senin, 19 Juli 2010

Ketidakpastian Dan Budaya Paternalistik

Sumber:http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/message/6372

Ketidakpastian itu sangat tidak mengenakkan. Bahkan dalam taraf tertentu
ketidakpastian bisa menjelma menjadi sesuatu yang menyiksa, menyakitkan.
Tidaklah mengherankan jika orang berlumba-lumba menggapai "sesuatu" yang bisa
dijadikan pegangan kepastian. Kepastian tidak bisa dipisahkan dengan harapan.
Kepastian menjanjikan harapan, juga harapan adalah pintu atau jalan menuju
kepastian. Jenis dan tingkat harapan serta kepastian pun bermacam-macam.
Tergantung apa dan bagaimana latar belakang seseorang.

Pengumuman lowongan pekerjaan adalah harapan kepastian pekerjaan bagi
pengangguran. Seorang yang keluar dari gang adalah harapan bagi tukang ojek.
Jika isyarat dari orang itu menunjukkan tanda dia akan menggunakan jasanya, maka
harapan si tukang ojek bertambah besar. Apalagi jika transaksi serta jasa
pelayanan sudah dimulai, itu berarti kepastian mendapat selembar-dua lembar
ribuan. Kepastian di tingkat inipun kemudian menjelma menjadi harapan lagi
menuju tingkat kepastian yang lebih tinggi. Misalnya, kepastian mampu membayar
setoran atau kepastian lancarnya nafkah bagi keluarganya. Bagi orang yang sudah
bekerja tetap (formal), harapan akan kepastian mendapat gaji yang cukup akan
memberinya motivasi kerja yang luar biasa, meskipun -mungkin- harus bekerja
melebihi jam normal. Seorang suami adalah harapan kepastian bagi seorang
perempuan, begitu juga sebaliknya. Orang tua adalah harapan dan kepastian bagi
anak-anaknya, begitu pula sebaliknya terutama waktu sang anak sudah tumbuh
dewasa.

Harapan akan kepastian bukan hanya monopoli individu, namun juga pada sekelompok
orang. Tiap kelompok itu biasanya berbasis pada satu persamaan. Bisa persamaan
nasib, persamaan profesi, suku, pola hidup, ideologi, agama, aliran agama,
gender dan masih banyak lagi.

Harapan dan kepastian baik dalam skala individu maupun kelompok, adalah sesuatu
yang wajar, alamiah dan tidak bisa disalahkan. Begitupun dengan usaha-usaha tiap
individu atau kelompok dalam memperoleh harapan dan kepastian. Yang perlu
diwaspadai adalah munculnya pola pikir serta budaya paternalistik yang selalu
menyertai "pertarungan" (perhatikan tanda kutip) dalam memperoleh harapan dan
kepastian itu. Dalam taraf tertentu pola pikir serta budaya paternalistik bisa
dimaklumi, namun hal ini juga potensial memunculkan permusuhan dan kekacauan.
Budaya paternalistik dalam istilah Jawa dikenal dengan "sapa sira sapa ingsun"
(siapa kamu siapa saya). Pola pikir serta budaya seperti ini biasanya menganggap
orang atau kelompok diluar kelompoknya sebagai "the others", yang berarti juga
adalah saingan bahkan lebih parah lagi diidentikkan sebagai musuh jika "the
others" itu sudah dianggap sebagai ancaman terhadap harapan dan kepastian bagi
kelompoknya. Bahayanya -tentu saja- hal seperti itu akan dilanjutkan dengan
upaya "membunuh" kelompok lain yang dianggap sebagai ancaman itu.

Bagi seorang politikus, jika pola pikir dan budayanya paternalistik, maka
menyerang dengan segala cara politikus di luar kelompoknya menjadi hal yang
wajar. Jika kelompok itu kelompok agama atau aliran agama, maka menyerang dan
menjelekkan agama atau aliran agama lain merupakan menu favorit. Jika dia
seorang ideolog atau penganut ideologi tertentu, maka menyerang ideologi dan
penganut ideologi lain bisa merupakan kewajiban. Tentu saja, dalam tingkat
tertentu saling serang seperti ini tidak mungkin ditiadakan, dan tidak perlu
ditiadakan jika masing-masing kelompok berpegang pada etika universal yang
disepakati bersama. Namun sangat disayangkan jika saling serang itu sudah
mengabaikan etika, antara lain sudah mulai berbau fitnah, atau memberikan
gambaran buruk secara ekstrem terhadap "lawan"nya yang bisa dikategorikan
sebagai upaya pembunuhan karakter.

"Ngelamun !" bentak Dini yang tiba-tiba muncul.

"Uuuhh si sableng lagi. Nggangguin orang aja!"

"Salah sendiri siang-siang ngelamun di tempat terbuka. Kalau nggak mau diganggu,
sono ngelamun di kolong tempat tidur. Aman!"

"Wealah dasar bocah sableng ! Eh, apaan tuh, jeruk ya ? minta atu donk .." kata
Paijo yang melihat Dini membawa plastik berisi jeruk.

"Nggak ussyaah ya !"

"Ooo .. udah mentel pelit lagi ! dimintain satu aja nggak boleh."

"Biarin .. wek !" sahut Dini. "Mmm .. ya .. ya .. biar nggak ngambek, nih aku
kasih atu. Tapi ada syaratnya.."

"Dasar sableng ! syarat apaan ?"

"Rasain lu, kena batunya. Orang sableng ketemu orang sableng .. hi.. hi..," kata
Dini cengar-cengir. "Syaratnya, kasih tahu dulu, tadi ngelamunin apa ?"

"Ooo itu. Aku nggak ngelamun. Masak nggak bisa mbedain ngelamun sama merenung."

"Ah, sama aja !"

"Jelas beda donk !"

"Bedanya dimana ?" tanya Dini dengan gaya sablengnya.

"Bedanya kalau ngelamun itu angan-angan yang nglambrang nggak karuan. Kalau
merenung itu otak bekerja buat mikir."

"Ah, bisa aja ! emang mikir apaan sih ?" tanya Dini.

"Aku lagi mikir budaya paternalistik yang subur di tengah masyarakat kita."

"Uuuh, kayak gitu dipikirin. Pikirin tuh, gimana caranya biar dapat kerjaan yang
bisa jadi jaminan masa depan. Pikiran juga tuh, gimana caranya aku bisa segera
punya kakak ipar .. hi .. hi .."

"Lho, apa salah mikirin hal kayak gitu ?" tanya Paijo.

"Salah sih nggak, cuman kurang kerjaan mikirin sesuatu yang di luar jangkauan !"
jawab Dini.

"Terserah gimana kamu nganggepnya. Bagiku sih itu termasuk mikirin masa depan
juga. Bukankah dampak negatif dari budaya paternalistik itu balik ke kita-kita
juga."

"Kok bisa ?!" tanya Dini.

"Jelas dong. Emang kita nggak repot kalau di tengah jalan lagi ada tawuran anak
sekolah. Emang nggak pusing kalau nasib menentukan kita berada di tengah
kelompok preman yang berantem ? Belum lagi kalo lihat berita tu, tawuran antar
kampung sampe antar suku segala ?"

"Ooo.. begitchu.. lantas apa hubungannya sama budaya paternalistik ?" tanya Dini
lagi.

"Sikap paternalistik kan identik dengan solidaritas yang ngawur. Nggak peduli
temen itu benar atau salah, yang penting dia dari kelompokku, ya harus dibelain.
Masalah pribadi antar dua oknum kelompok bisa melebar ke pertikaian antar
kelompok."

"Yaa .. itu mah sudah jamak. Emang kita bisa apa ?" komentar Dini.

"Syukur-syukur kita bisa ikut mencegah, berupaya melempar opini bahwa budaya
seperti itu nggak sehat. Lha wong di balik perbedaan-perbedaan antar kelompok
itu kan masih banyak persamaan yang lebih universal, kok mau-maunya ngotot
menghuni kotak kelompok yang sempit dan sumpek. Toh, waktu dilahirkan semua bayi
kondisi dan kebutuhannya sama."

"Kayak gitu kan susah. Bisa dianggap keminter lagi," kata Dini.

"Kalau belum bisa, minimal kita nggak nambah-nambahin jumlah orang yang terjebak
dalam budaya seperti itu. Dan itu bisa dimulai dari diri kita sendiri, keluarga,
temen dan seterusnya yang masih dalam jangkauan kita."

"Lalu ?"

"Lalu ? .... aku capek. Mana sini jeruknya .. "

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar